Jumat, 20 Agustus 2010

soal B.inggris

1. Yella Mendoza is a Spanian. She ……. In Indonesia mind last year. She is here to study Indonesian culture in private university in East Java
a. have been c. is
b. has been d. was

2. A; "some species of our rare sipanzee are extinct"
B; "............"
a. good luck
b. how nice
c. that's a pity
d. I know what you feed

Last week my uncle went to Bunaken for business meeting. He .....(1)…..his family come along with him. He asked to …..(2)….staying in the hotel and playing on the beach. While having business, meeting, his family staying in the hotel near the beach.

3. a. takes c. took
b.take d. is taking

4. a. enjoyed c. was ejoying
b. enjoy d. enjoys

5. I am ..... for someone.
a. is c. am
b. looking d. do

6. ....... is his hair?
-He has medium length
a. how old c.how deep
b. how long d.how far

7. ....... he look like?
a. what does c. what was
b. what do d. what is

8. it .... a flower.
a. are c. does
b. is d. do

9. you are .... actor.
a. an c. does
b. a d. do

10. ....... are you?
- I'm 14 years old.
a. how old c. how deep
b. how far d. how does

Jumat, 06 Agustus 2010

CERITA ISLAMI

Siti Masyitoh

“Apa, di dalam kerajaanku sendiri ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astagfirullah. Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini disembunyikannya.
“Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, mentriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada yang berani memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Masyitoh itu,” umpat Fir’aun.

“Panggil Masyitoh kemari,” perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.
“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.
“Benar,” jawab Masyitoh mantap.
“Kamu tahu akibatnya? Kamu sekeluarga akan saya bunuh,” bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh.
“Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.”
“Masyitoh, apa kamu sudah gila! Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu, dan anak-anakmu.”
“Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.”
Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya.
“Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air, dan masak hingga mendidih,” perintah Fir’aun lagi.
Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah berkumpul, Fir’aun memulai pengadilannya.
“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya.”
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suami, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi batinnya yang lain mengucap.
Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.
Allah pun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.
Demikianlah kisah seorang wanita shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun dihadapkan pada bahaya yang akan merenggut nyawanya dan keluarganya.
Ketika Nabi Muhammad Saw. isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu, Jibril?” tanya baginda Nabi.
“Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

DEMI NAFASMU

Menjalani hitam putih hidupku
Membuatku mengerti,
Arti hadir-MU dalam setiap langkah-langkah ku berarti

Melewati setiap detik waktu ku bersama takdir-MU
Membuat ku mengerti, hanyalah pada-MU ku kembali

Ku bersujud ke pada-MU
Memohon ampunan-MU
Adakah jalan untuk ku, tuk kembali pada-MU

REFF:
Aku lah para pencari-MU yah Allah
Aku lah yang merindukan-MU ya Rabbi
Tunjukanku jalan yang lurus untuk ku dapatkan langkah ku

Aku lah para pencari-MU yah Allah
Aku lah yang merindukan-MU ya Rabbi
Hanya ditangan-Mu yah Allah, tempat ku pasrahkan hidupku

PUISI RAMADHAN

Jangan memuji kecantikan pelangi
Tapi pujilah Allah
Yang menciptakan Langit & Bumi

Jangan percaya
Denga kata-kata bijakku
Tapi percayalah Firman Allah yang Maha Benar

Jangan masukkan namaku di hatimu
Tapi masukkan nama Allah
Hingga hatimu tenang

Jangan sedih jika cintamu di dustakan
Tapi sedihlah jika engkau dustakan Allah
Jangan pula engkau minta cinta kepada penyair
Tapi mintalah kepada Allah
yg memiliki cinta yg kekal dan sejati

Ya Allah yang Maha Rahman & Rahim
Jangan jadikan hatiku batu yg mengeras
Hingga lupa akan rahmatMu

Jumat, 23 Juli 2010

OXFORD UTOMO

could it a sheer coincidence ? or could it be a single that the competition among IT Security venders is getting hotter in Indonesia? or could it simply be an indication that Indonesia has become one of the world's top producers of malicious software (viruses, worms, Trojans, spam, DoS, phisting, spyware, adware, keyloggers and many others)?

whatever it was, las week I was invited to two events hosted by two of the top five anti-malware providers. The first was an invitation to luncheon with Eugene Kapersky, the CEO of Kapersky Lab, and the other with two executive from Symantec who were here to launch Norton 2010.

Unfortunately, the two events were on the same date and time. I could not out cut myself into two, so I was unable to attend both. And, as I had accepted Kapersky Lab's invitation first, I went to their event.
Then, when I got home, I saw a release from AVG in my inbox. AVG has released the free and commercial 9.0 version, which AVG claims is 50 percent faster, gives better protection and is easier to use. In addition to all that, I also received and email offer from MCAfee to extend my subscription to their Security Center at a discount of 27 percent. Well, I may choose to jump ship to get a better deal, though.

These four IT security software providers are among the best in the world. However, as far a I can remember, it was the first time that CEO and co-founder of such a company ever came to Indonesia - no suprise, as Kapersky Lab, which started in Russia, always looked at the global market.

so Eugene was on a trip around Southeast Asia to meet directlyu with his users, distributors and resellers. Indonesia was the first leg of his trip, and it included a lecture titled "Taking Responsibility for the Iternet" at Gadjah Mada University.

According to the Star, Eugune has challenged Malaysian students to conduct research and write papers on secreal new and interesting topics to be presented at "Kapersky Lab - IT Security for the Next Generation" in Rusia early next year. What I have found very interesting is the areas that the students are encouraged to deive into.

They include, as listed in The Star's report, "future ICT-related problems; psychology of cybecrime; economic structure of cybercrime; online commerce of e-crime; law and security, e.g. intellectual property rights, innovation and transfer of rights; impact, threats and incidents caused by botnets; and measuring malware and spam."

Malware makers are human beings, individuals rather than armies. So the psychology of cybercrime intrigues me alot. What drieves people to create so many hazards to other human beings who want to make good use of the godsend called the Internet? is it really their need to actualize themselves?

To show to the world that they exist and are capable of causing damage - often irreversible?

"in the past, that was the main motive," said the 20-year veteran Eugene Kapersky when I asked him. "Today, it is money. There is a lot of money to be made through cybercrime."

So, not surprisingly, Eugene believes that in the future